Kateterisasi Jantung dan Risiko Radiasi bagi Tenaga Kesehatan Tanpa APD yang Sesuai

·

·

Kateterisasi Jantung dan Risiko Radiasi bagi Tenaga Kesehatan Tanpa APD yang Sesuai

Menurut Journal Mayo Clinic “A cardiac catheterization can help your doctor determine if you have a heart condition”. Dikatakan bahwa, kateterisasi jantung merupakan prosedur penting dalam bidang kardiologi intervensional. Prosedur ini sangat membantu dalam mendiagnosis dan menangani gangguan jantung, seperti penyempitan arteri koroner, gagal jantung, atau kelainan katup. Meski sangat bermanfaat, kateterisasi jantung menggunakan teknologi pencitraan berbasis sinar-X, yang menimbulkan paparan radiasi signifikan.

Bagi tenaga kesehatan (NAKES) seperti dokter, perawat, dan radiografer yang terlibat langsung dalam prosedur ini, paparan radiasi menjadi ancaman serius apabila tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) radiasi yang sesuai dan standar.

Apa Itu Kateterisasi Jantung?

Kateterisasi jantung adalah prosedur medis invasif minimal di mana dokter memasukkan kateter (tabung tipis dan fleksibel) ke dalam pembuluh darah—biasanya dari lengan atau pangkal paha—kemudian diarahkan menuju jantung untuk tujuan diagnosis atau terapi.

Tujuan kateterisasi jantung antara lain:

  • Mengukur tekanan dan kadar oksigen dalam bilik jantung
  • Mendeteksi penyumbatan arteri koroner (angiografi koroner)
  • Menyuntikkan obat atau pewarna kontras
  • Melakukan intervensi seperti pemasangan stent (PCI)

Paparan Radiasi dalam Prosedur Kateterisasi

Berdasarkan data WHO Radiation in Interventional Procedures dikatakan bahwa, Prosedur ini dilakukan di ruang kateterisasi jantung (cath lab) yang dilengkapi alat fluoroskopi untuk memandu pergerakan kateter secara real-time. Fluoroskopi bekerja dengan menghasilkan sinar-X secara kontinu, yang menjadikan tenaga medis di ruang tersebut terpapar radiasi pengion setiap kali prosedur berlangsung.

Risiko Kesehatan Akibat Paparan Radiasi pada NAKES

Radiasi yang diterima tenaga medis bukan hanya berasal dari pancaran langsung alat, tetapi dari radiasi hambur (scatter radiation) yang menyebar dari tubuh pasien ke seluruh ruangan. Radiasi ini bersifat kumulatif dan bisa menimbulkan efek jangka panjang yang serius, terutama jika NAKES tidak memakai APD dengan benar.

1. Risiko Kanker

Paparan kronis terhadap radiasi pengion dapat meningkatkan risiko kanker, terutama:

  • Kanker tiroid
  • Leukemia
  • Kanker kulit
  • Kanker payudara (pada NAKES wanita)
  1. Katarak dan Gangguan Mata

Paparan radiasi pada mata dapat menyebabkan katarak yang memburuk seiring waktu.

3. Efek Genetik dan Reproduksi

Paparan pada organ reproduksi bisa menyebabkan kelainan genetik, gangguan fertilitas, atau risiko cacat bawaan pada keturunan.

4. Kerusakan Jaringan Lunak

Paparan pada tangan atau tubuh bagian atas yang tidak terlindungi dapat menyebabkan dermatitis radiasi, luka kulit, atau bahkan nekrosis jaringan.

Tenaga Kesehatan yang Paling Berisiko

  • Dokter spesialis jantung intervensi
  • Perawat cath lab
  • Radiografer / teknisi radiologi
  • Asisten medis dan mahasiswa koas

Studi dari Journal of the American College of Cardiology (2021) melaporkan bahwa rata-rata dokter intervensi menerima paparan radiasi tahunan sebesar 2-5 mSv, dan bahkan lebih tinggi jika tidak konsisten memakai pelindung.

Peran Vital APD Radiasi: Standar Keselamatan Wajib

Berdasarkan IAEA Safety Standards dikatakan bahwa, APD radiasi adalah alat pelindung yang dirancang untuk menyerap sinar-X dan mencegah radiasi masuk ke tubuh. Penggunaannya tidak boleh diabaikan, terutama dalam prosedur intervensional seperti kateterisasi jantung.

Jenis-jenis APD yang Direkomendasikan:

1. Apron Body

  • Double Sided Apron
    Melindungi bagian depan dan belakang tubuh secara menyeluruh.

Kelebihan:

  • Ideal untuk pengguna yang sering menghadapi paparan dari berbagai arah.
  • Memberikan perlindungan total pada organ vital.

Cocok untuk Radiografer di ruang fluoroskopi atau saat mendampingi prosedur intervensi jangka panjang.

  • Single Coat Apron

 Melindungi bagian depan dan sisi tubuh, namun bagian belakang tetap terbuka.

Kelebihan:

Memberikan perlindungan yang cukup saat paparan utama berasal dari depan atau samping.

Cocok untuk pemeriksaan rutin atau penggunaan jangka pendek.

  • Vest and Skirt Apron
    Terdiri dari dua bagian terpisah: vest (bagian atas) dan skirt (bagian bawah), menutupi depan dan belakang tubuh.

Kelebihan:

  • Distribusi berat lebih merata, mengurangi tekanan pada bahu.
  • Nyaman digunakan dalam waktu lama.
  • Memudahkan pergerakan saat prosedur intervensi.

Cocok untuk Dokter spesialis dan teknisi yang bekerja lama di ruang kateterisasi atau bedah intervensi.

2. Surgical Glove Anti Radiasi

Fungsi:

Melindungi tangan operator dari paparan radiasi langsung saat memegang alat atau berada dekat sumber radiasi, khususnya saat fluoroskopi atau intervensi.

Kenapa penting?

Tangan seringkali menjadi bagian tubuh paling dekat dengan sumber sinar-X dan paling sering terpapar, sehingga perlu perlindungan khusus.

3. Thyroid Shield

Fungsi:

Melindungi kelenjar tiroid di leher dari radiasi, organ yang sangat rentan terhadap kerusakan akibat sinar-X.

Kenapa penting?

Paparan berulang pada tiroid dapat memicu gangguan hormon hingga kanker tiroid.

4. Protective Eyewear

  • Fit Over

Desain:

Dirancang untuk digunakan di atas kacamata biasa. Ideal bagi tenaga medis yang memakai kacamata optik sehari-hari.

  • Front & Side

Desain:

Kacamata pelindung dengan perlindungan bagian depan dan samping mata.

Memberikan perlindungan lebih luas dalam prosedur radiologi dan fluoroskopi.

Kenyataan di Lapangan: Masih Banyak NAKES Tidak Menggunakan APD Lengkap

Sayangnya, penggunaan APD di banyak fasilitas kesehatan belum optimal. Dalam survei nasional di AS (Radiation Safety in Cardiology, 2022), ditemukan:

“Hanya 65% tenaga medis yang memakai apron dan pelindung tiroid secara konsisten, dan hanya 20% yang menggunakan pelindung mata.”

Alasan umum:

  • APD berat dan tidak nyaman
  • Ketersediaan terbatas
  • Kurangnya pelatihan tentang risiko radiasi
  • Budaya kerja yang belum mengutamakan proteksi radiasi

Strategi Proteksi Radiasi: 5 Prinsip Penting

  1. Gunakan APD lengkap dan sesuai standar setiap kali masuk ruang prosedur
  2. Minimalkan waktu paparan di dekat alat fluoroskopi
  3. Maksimalkan jarak dari sumber radiasi saat tidak aktif melakukan tindakan
  4. Gunakan shielding tambahan seperti pelindung gantung
  5. Pantau paparan dengan dosimeter pribadi dan lakukan evaluasi rutin

Melindungi Tenaga Medis, Melindungi Masa Depan

Paparan radiasi dalam prosedur kateterisasi jantung tidak bisa dihindari, tapi bisa dikendalikan. Dengan menggunakan APD radiasi yang sesuai dan berkualitas, serta membangun budaya kerja yang mengutamakan keselamatan, kita bisa menurunkan risiko penyakit serius di kalangan tenaga kesehatan.

Keselamatan bukan sekadar kewajiban, tapi hak tenaga medis.

 

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Kami
Scan the code
Halo!
Ada yang bisa dibantu ? Chat dengan CRO Kami