Dalam dunia radiologi, khususnya radiologi kedokteran gigi, penggunaan sinar-X menjadi bagian penting dalam menegakkan diagnosis dan menentukan rencana perawatan. Bahkan, sekitar sepertiga pemeriksaan radiologi medis berasal dari radiologi dental.
Namun di balik manfaatnya, paparan radiasi pengion tetap memiliki risiko biologis, baik berupa efek deterministik (kerusakan jaringan) maupun efek stokastik (risiko kanker). Oleh karena itu, prinsip proteksi radiasi menjadi aspek krusial dalam praktik klinis.
Selama puluhan tahun, prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievable) menjadi standar utama. Namun, berdasarkan penelitian Fadhlil Ulum Abdul Rahman dkk. (2020), konsep ini mulai dianggap tidak lagi relevan dalam konteks radiologi modern.
Apa Itu ALARA dan Mengapa Digunakan?
ALARA merupakan prinsip yang menekankan bahwa paparan radiasi harus dibuat serendah mungkin dengan mempertimbangkan faktor sosial dan ekonomi.
Konsep ini didasarkan pada teori Linear No-Threshold Theory (LNT) yang menyatakan bahwa:
- Tidak ada batas aman radiasi
- Setiap paparan, sekecil apapun, berpotensi berbahaya
- Risiko meningkat secara linear seiring dosis
Dengan dasar ini, ALARA mendorong praktisi untuk selalu meminimalkan paparan radiasi.

Masalah dalam Penerapan ALARA
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi radiologi, berbagai penelitian mulai mengkritisi konsep ALARA. Dalam studi Rahman et al. (2020), beberapa kelemahan utama ALARA antara lain:
1. Terlalu Konservatif
ALARA menganggap semua dosis radiasi berbahaya tanpa mempertimbangkan respon biologis tubuh terhadap dosis rendah.
2. Menimbulkan Radiophobia
Ketakutan berlebihan terhadap radiasi dapat membuat pasien maupun tenaga medis menghindari pemeriksaan yang sebenarnya diperlukan.
3. Tidak Spesifik Secara Klinis
Istilah “reasonably achievable” seringkali ambigu dan dapat ditafsirkan berbeda oleh setiap praktisi.
4. Berpotensi Menghambat Diagnosis
Dalam beberapa kasus, upaya menekan dosis justru dapat menurunkan kualitas gambar sehingga mengganggu akurasi diagnosis.
Perkembangan Konsep Baru: ALADA
Sebagai respons terhadap keterbatasan ALARA, muncul konsep ALADA (As Low As Diagnostically Acceptable).
Berbeda dengan ALARA, ALADA menekankan bahwa:
- Dosis radiasi harus cukup untuk menghasilkan gambar yang dapat diinterpretasi
- Tidak perlu mencapai kualitas gambar yang “sempurna”
Dengan kata lain, fokus ALADA adalah keseimbangan antara dosis radiasi dan kualitas diagnostik
Konsep ini membantu menghindari overexposure yang tidak perlu.
ALADAIP: Pendekatan Modern dan Lebih Presisi
Perkembangan selanjutnya melahirkan konsep ALADAIP (As Low As Diagnostically Acceptable being Indication-oriented and Patient-specific).
Konsep ini dianggap lebih relevan karena menambahkan dua aspek penting:
1. Indication-Oriented
Dosis radiasi harus disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan.
Contoh:
- Pemeriksaan sederhana tidak memerlukan resolusi tinggi
- Kasus kompleks membutuhkan detail lebih tinggi
2. Patient-Specific
Dosis disesuaikan dengan karakteristik pasien, seperti:
- Usia (anak vs dewasa)
- Ukuran tubuh
- Riwayat paparan radiasi
Mengapa ALADAIP Lebih Unggul?
Menurut Rahman et al. (2020), ALADAIP menawarkan pendekatan yang:
Lebih spesifik, lebih personal, lebih sesuai dengan perkembangan teknologi (CBCT, digital radiography), dan tetap menjaga kualitas diagnosis
ALADAIP tidak lagi berfokus pada “serendah mungkin”, tetapi pada:
“seberapa tepat dosis untuk pasien dan indikasi tertentu”
Implikasi dalam Praktik Radiologi Dental
Dalam praktik sehari-hari, penerapan ALADAIP dapat dilakukan melalui:
- Pengaturan parameter seperti kVp, mAs, dan FOV
- Pemilihan mode anak atau dewasa
- Penyesuaian resolusi berdasarkan kebutuhan klinis
Konsep ALARA telah berperan penting dalam sejarah proteksi radiasi, namun perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa pendekatan ini memiliki keterbatasan.
Sebagai gantinya, konsep ALADA dan terutama ALADAIP hadir sebagai solusi yang lebih modern, dengan pendekatan yang lebih spesifik, fleksibel, dan berorientasi pada pasien.
Dalam radiologi saat ini, prinsip yang digunakan bukan lagi sekadar “serendah mungkin”, melainkan:
“serendah yang diperlukan untuk diagnosis yang tepat, sesuai dengan kondisi pasien.”